Lewati ke konten utama
Teknologi

Startup Agritech Asal Bandung Kembangkan Sensor IoT Pendeteksi Unsur Hara Tanah dan Otomasi Irigasi

Ukuran Huruf

BANDUNG, Media Semesta — Inovasi membanggakan lahir dari sekelompok anak muda pengembang teknologi agritech asal Bandung yang berhasil merancang perangkat sensor tanah pintar berbasis Internet of Things (IoT) bernama Taniverse Soil Probe guna memodernisasi cara bertani petani pedesaan.

Alat berbentuk tongkat tancap tahan cuaca ekstrem ini mampu membaca kadar kelembapan tanah, tingkat keasaman (pH), kadar Nitrogen, Fosfor, Kalium (NPK), konduktivitas listrik, dan suhu mikro tanah secara seketika dan mentransmisikan datanya melalui jaringan satelit berdaya rendah (LoRaWAN) ke aplikasi ponsel pintar petani.

Iklan Sponsor

Kecerdasan Buatan Berikan Rekomendasi Takaran Pupuk Presisi

Data kondisi kimiawi tanah yang dihimpun sensor dianalisis oleh algoritma kecerdasan buatan untuk menghasilkan panduan pemupukan yang presisi sesuai jenis komoditas tanaman, baik padi, jagung, cabai, maupun kopi.

Petani tidak lagi menebak-nebak takaran pupuk urea atau NPK berdasarkan kebiasaan turun-temurun, melainkan memberikan nutrisi tanaman secara pas sesuai kebutuhan riil tanah yang sedang terdegradasi.

Baca Juga: Pemberlakuan Penuh UU Perlindungan Data Pribadi: Korporasi Wajib Miliki Pejabat DPO Bersertifikasi

Chief Technology Officer (CTO) startup pengembang memaparkan bahwa uji coba di 500 hektare sawah percontohan di Karawang dan Subang membuktikan penggunaan pupuk kimia dapat dihemat hingga 35 persen tanpa menurunkan tonase panen gabah.

“Kebiasaan memberi pupuk kimia berlebih selama bertahun-tahun justru merusak kesuburan mikrobioma tanah dan membebani dompet petani. Teknologi kami membantu tanah bernapas kembali sehat dan meningkatkan bobot gabah hingga 1,8 ton per hektare,” jelasnya kepada Media Semesta di Bandung.

Sistem Katup Irigasi Otomatis Hemat Penggunaan Air Baku

Perangkat sensor ini terintegrasi langsung dengan katup air irigasi bertenaga surya di pintu air tersier saluran persawahan. Begitu sensor mendeteksi kelembapan tanah turun di bawah batas kritis, katup pintu air membuka secara otomatis dan menutup kembali saat kadar air telah mencukupi.

Otomatisasi pengairan ini menghemat pemakaian air tawar hingga 40 persen, sangat krusial dalam menghadapi ancaman kekeringan musiman akibat perubahan siklus cuaca global.

Kementerian Pertanian memberikan apresiasi berupa fasilitasi sertifikasi produk dalam negeri dan memasukkan perangkat sensor IoT ini ke dalam katalog elektronik (e-Katalog) pengadaan bantuan alat pertanian pemerintah.

Baca Juga: Akselerasi Jaringan 5G Mandiri (Standalone) Mulai Diterapkan di Kawasan Industri Otomasi dan Pelabuhan Pintar

Inovasi ini membuktikan potensi luar biasa generasi muda Indonesia dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan terapan untuk memajukan sektor pertanian pangan nusantara.

Iklan Sponsor
Artikel ini telah dibaca sebanyak 2,352 kali
Gunung Krakatau Erupsi 0:40
REELS

Gunung Krakatau Erupsi

0 0
Aktifis Malaysia Berunjuk Rasa 0:52
NASIONAL

Aktifis Malaysia Berunjuk Rasa

0 0
Malaysia Bikin Hujan Buatan Redakan Kabut Asap Karhutla Indonesia 0:59
REELS

Malaysia Bikin Hujan Buatan Redakan Kabut Asap Karhutla Indonesia

0 0
KUNJUNGAN KERJA PRABOWO KE RUSIA DI TENGAH RENTETAN BENCANA MENUAI KRITIK KERAS 0:35
REELS

KUNJUNGAN KERJA PRABOWO KE RUSIA DI TENGAH RENTETAN BENCANA MENUAI KRITIK KERAS

0 0

Komentar Pembaca

🛡️
Kebijakan Moderasi Komentar:

Demi kenyamanan dan diskusi yang sehat, seluruh komentar yang dikirimkan akan melalui proses peninjauan dan moderasi oleh tim redaksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan ke publik.

Tulis Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

(Anti-bot)

Berita Lainnya

Lihat Semua