Lewati ke konten utama
Ekonomi

Bank Indonesia Pertahankan BI-Rate di Level 6,00 Persen, Jaga Stabilitas Rupiah dan Aliran Modal Masuk

Ukuran Huruf

JAKARTA, Media Semesta — Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate pada level 6,00 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen.

Keputusan moneter yang terukur ini diambil sebagai langkah antisipatif yang cermat (*pre-emptive and forward looking*) di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) serta eskalasi tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang membayangi harga minyak mentah dunia.

Iklan Sponsor

Menjaga Ekspektasi Inflasi dalam Sasaran 2,5 Plus Minus 1 Persen

Gubernur Bank Indonesia menyatakan bahwa suku bunga acuan saat ini sangat memadai untuk memastikan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tetap terkendali dalam sasaran target 2,5±1 persen hingga akhir tahun kalender dan sepanjang tahun mendatang.

Inflasi kelompok pangan bergejolak (volatile food) yang sempat menanjak akibat gangguan pasokan musiman berhasil ditekan kembali ke bawah 5 persen berkat efektivitas Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang digulirkan bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di seluruh pelosok provinsi.

Baca Juga: OJK Rilis Peta Jalan Fintech Lending 2024–2028: Ketatkan Batas Bunga Pinjaman dan Lindungi Konsumen

“Fokus kebijakan moneter dalam jangka pendek tetap diarahkan pada stabilitas (*pro-stability*), khususnya memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak rambatan ketidakpastian pasar finansial global, sekaligus menjaga kesinambungan aliran modal asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI),” tegas Gubernur BI dalam konferensi pers bulanan di Jakarta.

Penguatan Insentif Likuiditas Makroprudensial Perbankan

Kendati kebijakan suku bunga diposisikan untuk menjaga stabilitas moneter, Bank Indonesia terus menggenjot bauran kebijakan makroprudensial yang akomodatif (*pro-growth*) guna mendorong perbankan menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas pencipta lapangan kerja.

BI menambah besaran insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) hingga maksimal 400 basis poin bagi bank yang aktif menyalurkan pembiayaan ke sektor hilirisasi minerba, otomotif listrik, perumahan rakyat, dan UMKM berorientasi ekspor.

Aliran kredit perbankan nasional pun terus melaju kencang dengan pertumbuhan mencapai 12,4 persen secara tahunan (year-on-year), ditopang oleh rasio kecukupan modal (CAR) industri perbankan yang kokoh di atas level 26 persen.

Sejumlah ekonom memproyeksikan Bank Indonesia memiliki ruang yang cukup longgar untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 25 hingga 50 basis poin pada kuartal mendatang seiring meredanya tekanan inflasi global dan penguatan cadangan devisa nasional yang menyentuh angka US$145 miliar.

Iklan Sponsor
Artikel ini telah dibaca sebanyak 2,827 kali
Gunung Krakatau Erupsi 0:40
REELS

Gunung Krakatau Erupsi

0 0
Aktifis Malaysia Berunjuk Rasa 0:52
NASIONAL

Aktifis Malaysia Berunjuk Rasa

0 0
Malaysia Bikin Hujan Buatan Redakan Kabut Asap Karhutla Indonesia 0:59
REELS

Malaysia Bikin Hujan Buatan Redakan Kabut Asap Karhutla Indonesia

0 0
KUNJUNGAN KERJA PRABOWO KE RUSIA DI TENGAH RENTETAN BENCANA MENUAI KRITIK KERAS 0:35
REELS

KUNJUNGAN KERJA PRABOWO KE RUSIA DI TENGAH RENTETAN BENCANA MENUAI KRITIK KERAS

0 0

Komentar Pembaca

🛡️
Kebijakan Moderasi Komentar:

Demi kenyamanan dan diskusi yang sehat, seluruh komentar yang dikirimkan akan melalui proses peninjauan dan moderasi oleh tim redaksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan ke publik.

Tulis Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

(Anti-bot)

Berita Lainnya

Lihat Semua