JAKARTA, Media Semesta — Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate pada level 6,00 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen.
Keputusan moneter yang terukur ini diambil sebagai langkah antisipatif yang cermat (*pre-emptive and forward looking*) di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) serta eskalasi tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang membayangi harga minyak mentah dunia.
Menjaga Ekspektasi Inflasi dalam Sasaran 2,5 Plus Minus 1 Persen
Gubernur Bank Indonesia menyatakan bahwa suku bunga acuan saat ini sangat memadai untuk memastikan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tetap terkendali dalam sasaran target 2,5±1 persen hingga akhir tahun kalender dan sepanjang tahun mendatang.
Inflasi kelompok pangan bergejolak (volatile food) yang sempat menanjak akibat gangguan pasokan musiman berhasil ditekan kembali ke bawah 5 persen berkat efektivitas Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang digulirkan bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di seluruh pelosok provinsi.
“Fokus kebijakan moneter dalam jangka pendek tetap diarahkan pada stabilitas (*pro-stability*), khususnya memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak rambatan ketidakpastian pasar finansial global, sekaligus menjaga kesinambungan aliran modal asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI),” tegas Gubernur BI dalam konferensi pers bulanan di Jakarta.
Penguatan Insentif Likuiditas Makroprudensial Perbankan
Kendati kebijakan suku bunga diposisikan untuk menjaga stabilitas moneter, Bank Indonesia terus menggenjot bauran kebijakan makroprudensial yang akomodatif (*pro-growth*) guna mendorong perbankan menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas pencipta lapangan kerja.
BI menambah besaran insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) hingga maksimal 400 basis poin bagi bank yang aktif menyalurkan pembiayaan ke sektor hilirisasi minerba, otomotif listrik, perumahan rakyat, dan UMKM berorientasi ekspor.
Aliran kredit perbankan nasional pun terus melaju kencang dengan pertumbuhan mencapai 12,4 persen secara tahunan (year-on-year), ditopang oleh rasio kecukupan modal (CAR) industri perbankan yang kokoh di atas level 26 persen.
Sejumlah ekonom memproyeksikan Bank Indonesia memiliki ruang yang cukup longgar untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 25 hingga 50 basis poin pada kuartal mendatang seiring meredanya tekanan inflasi global dan penguatan cadangan devisa nasional yang menyentuh angka US$145 miliar.
Komentar Pembaca
Demi kenyamanan dan diskusi yang sehat, seluruh komentar yang dikirimkan akan melalui proses peninjauan dan moderasi oleh tim redaksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan ke publik.