JAKARTA, Media Semesta — Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa (*all-time high*) baru setelah melesat menembus level psikologis 7.800 pada penutupan perdagangan akhir pekan.
Kenaikan indeks acuan pasar modal Indonesia ini ditopang oleh derasnya aliran modal masuk pemodal institusi global (*foreign net buy*) yang membukukan akumulasi pembelian bersih lebih dari Rp18,5 triliun dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
Saham Perbankan Berkapitalisasi Raksasa Jadi Buruan Investor
Saham-saham perbankan berkapitalisasi pasar terbesar (Big Caps) seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI menjadi pendorong utama penguatan indeks seiring ekspektasi pembagian dividen bernilai rekor dari hasil pembukuan laba bersih tahun buku berjalan.
Selain sektor finansial, emiten sektor barang konsumsi primer dan telekomunikasi infrastruktur menangguk apresiasi harga signifikan berkat daya beli masyarakat yang tetap tangguh di tengah tren moderasi harga komoditas global.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia menyampaikan bahwa rekor IHSG ini didukung oleh peningkatan likuiditas transaksi harian bursa yang stabil di kisaran Rp13 triliun per hari serta pertambahan jumlah investor ritel domestik yang kini menembus 13,5 juta nomor identitas investor (SID).
“Kepercayaan investor global terhadap stabilitas makroekonomi, konsistensi belanja APBN, dan transisi kepemimpinan nasional yang kondusif menjadi katalis fundamental utama yang membedakan pasar modal Indonesia dibandingkan bursa kawasan Asia lainnya,” tegasnya di Main Hall BEI, Jakarta.
Antrean IPO Perusahaan Teknologi dan Energi Hijau
Sentimen positif pasar modal turut menyemarakkan antrean penawaran umum perdana saham (*Initial Public Offering/IPO*) dari sejumlah korporasi mercusuar di sektor energi baru terbarukan (EBT), penyedia data center ramah lingkungan, dan jaringan ritel modern.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat ada lebih dari 35 calon emiten baru yang tengah memproses prospektus penerbitan saham dan obligasi korporasi dengan potensi penghimpunan dana segar mencapai Rp42 triliun.
Manajer investasi global memproyeksikan IHSG berpeluang menguji rentang level 8.000 hingga 8.200 pada semester mendatang apabila bank sentral global mulai merealisasikan siklus pelonggaran suku bunga acuan.
Pelaku pasar ritel diimbau tetap menjalankan diversifikasi portofolio investasi secara disiplin dan mengutamakan emiten yang memiliki rekam jejak fundamental laba bertumbuh serta tata kelola dividen yang teruji waktu.
Komentar Pembaca
Demi kenyamanan dan diskusi yang sehat, seluruh komentar yang dikirimkan akan melalui proses peninjauan dan moderasi oleh tim redaksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan ke publik.