JAKARTA, Media Semesta — Perum Bulog mengonfirmasi bahwa ketersediaan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di seluruh kompleks pergudangan nasional saat ini berada pada posisi sangat kokoh melampaui angka dua juta ton.
Kondisi persediaan pangan pokok yang melimpah ini menjadi jangkar peredam utama bagi pemerintah dalam mengendalikan volatilitas harga beras eceran di tingkat pasar tradisional menjelang masa pergantian musim panen dan potensi anomali kekeringan musiman.
Optimalisasi Penyerapan Gabah Kering Panen Petani Nusantara
Direktur Utama Perum Bulog menegaskan bahwa lebih dari 70 persen dari total cadangan beras yang dikuasai saat ini merupakan hasil penyerapan langsung gabah kering panen (GKP) petani lokal di sentra-sentra produksi pangan utama seperti Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Lampung, dan Nusa Tenggara Barat.
Bulog mengoperasikan unit pengolahan gabah beras modern (*Modern Rice Milling Plant/MRMP*) berkapasitas giling 6 ton per jam yang dilengkapi mesin pembersih kotoran dan pengering otomatis (dryer) guna menjamin kualitas beras premium bermutu prima.
“Kami turun langsung ke sawah-sawah petani dengan skema pembelian harga fleksibel di atas harga pembelian pemerintah (HPP), sehingga petani kita menikmati marjin keuntungan yang layak di tengah kenaikan biaya pupuk dan sewa lahan,” tegasnya saat meninjau Gudang Bulog Kelapa Gading.
Efektivitas Bantuan Pangan Beras dan Operasi Pasar SPHP
Ketersediaan stok yang tebal memungkinkan Bulog menyalurkan Program Bantuan Pangan Beras secara tepat sasaran kepada 22 juta keluarga penerima manfaat (KPM) di seluruh Indonesia tanpa mengganggu stok penyangga darurat bencana alam.
Selain itu, penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) berukuran kemasan 5 kilogram terus digencarkan setiap hari ke jaringan toko kelontong Rumah Pangan Kita (RPK) dan pasar ritel modern dengan batas harga eceran tertinggi (HET) yang terkawal ketat.
Dinas Perdagangan di berbagai provinsi melaporkan harga beras medium di pasar-pasar induk utama stabil bergerak di kisaran Rp11.500 hingga Rp12.000 per kilogram, menghindarkan lonjakan inflasi pangan yang memberatkan dapur keluarga prasejahtera.
Pemerintah berkomitmen melanjutkan modernisasi sistem pergudangan berteknologi silo kedap udara agar cadangan beras nasional mampu bertahan higienis selama 12 bulan tanpa risiko kerusakan kutu atau penurunan mutu nutrisi gabah.
Komentar Pembaca
Demi kenyamanan dan diskusi yang sehat, seluruh komentar yang dikirimkan akan melalui proses peninjauan dan moderasi oleh tim redaksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan ke publik.