Lewati ke konten utama
Ekonomi

Hilirisasi Nikel Masuk Fase Rantai Pasok Baterai EV, Pabrik Katoda Morowali Mulai Ekspor Perdana

Ukuran Huruf

MOROWALI, Media Semesta — Tonggak sejarah industrialisasi energi hijau Indonesia kembali ditorehkan seiring dimulainya ekspor perdana 50.000 ton nikel sulfat dan prekursor katoda baterai lithium dari kawasan industri hilirisasi Morowali, Sulawesi Tengah, menuju pasar manufaktur sel baterai kendaraan listrik global.

Pabrik pemurnian berbasis teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) generasi kedua ini mampu mengolah bijih nikel kadar rendah (limonit) yang selama puluhan tahun silam hanya dianggap sebagai lapisan tanah penutup tambang tak bernilai ekonomis.

Iklan Sponsor

Kenaikan Nilai Tambah Komoditas Hingga Tiga Puluh Kali Lipat

Pengolahan limonit menjadi prekursor baterai bernilai tambah tinggi berhasil mendongkrak devisa negara hingga 30 kali lipat dibandingkan era ekspor bijih mentah (*raw ore*) sebelum kebijakan moratorium diterapkan pemerintah secara konsisten.

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi mencatat total nilai ekspor produk turunan nikel Indonesia sepanjang tahun berjalan telah menembus angka US$36 miliar atau setara Rp560 triliun.

Baca Juga: Ekspor Manufaktur Otomotif Nasional Tembus 500 Ribu Unit ke 93 Negara, Indonesia Jadi Hub Global

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan menegaskan bahwa Indonesia tidak lagi sekadar menjadi produsen bahan baku nikel setengah jadi untuk baja nirkarat (stainless steel), melainkan pemain inti rantai pasok ekosistem baterai kendaraan listrik dunia.

“Dunia kini tidak bisa mengabaikan posisi strategis Indonesia dalam revolusi transisi energi hijau. Lebih dari 55 persen pasokan nikel baterai global berasal dari bumi nusantara yang diproses dengan teknologi ramah lingkungan berstandar ESG ketat,” terangnya di pelabuhan ekspor Morowali.

Penerapan Energi Bersih dan Pengelolaan Tailing Berkelanjutan

Guna memenuhi persyaratan sertifikasi rantai pasok baterai di Uni Eropa dan Amerika Serikat, konsorsium pengelola smelter menerapkan metode penempatan tailing kering (dry stacking) yang aman bagi ekosistem terumbu karang laut.

Kawasan industri ini juga mulai mengganti pembangkit listrik batubara mandiri dengan pasokan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 800 Megawatt di hulu Sungai Lariang serta ladang panel surya terapung.

Serapan tenaga kerja terampil lokal di fasilitas manufaktur katoda ini mencapai lebih dari 12.000 pekerja teknis muda Indonesia yang telah menjalani program alih teknologi di institusi politeknik industri setempat.

Baca Juga: Bank Indonesia Pertahankan BI-Rate di Level 6,00 Persen, Jaga Stabilitas Rupiah dan Aliran Modal Masuk

Pemerintah menargetkan fasilitas perakitan kemasan baterai EV terintegrasi penuh siap beroperasi komersial pada akhir tahun, melengkapi ekosistem kendaraan listrik hulu hingga hilir pertama di Asia Tenggara.

Iklan Sponsor
Artikel ini telah dibaca sebanyak 2,843 kali
Gunung Krakatau Erupsi 0:40
REELS

Gunung Krakatau Erupsi

0 0
Aktifis Malaysia Berunjuk Rasa 0:52
NASIONAL

Aktifis Malaysia Berunjuk Rasa

0 0
Malaysia Bikin Hujan Buatan Redakan Kabut Asap Karhutla Indonesia 0:59
REELS

Malaysia Bikin Hujan Buatan Redakan Kabut Asap Karhutla Indonesia

0 0
KUNJUNGAN KERJA PRABOWO KE RUSIA DI TENGAH RENTETAN BENCANA MENUAI KRITIK KERAS 0:35
REELS

KUNJUNGAN KERJA PRABOWO KE RUSIA DI TENGAH RENTETAN BENCANA MENUAI KRITIK KERAS

0 0

Komentar Pembaca

🛡️
Kebijakan Moderasi Komentar:

Demi kenyamanan dan diskusi yang sehat, seluruh komentar yang dikirimkan akan melalui proses peninjauan dan moderasi oleh tim redaksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan ke publik.

Tulis Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

(Anti-bot)

Berita Lainnya

Lihat Semua