JAKARTA, Media Semesta — Pusat Operasi Keamanan Siber Nasional (Pusopskamsinas) Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) merilis laporan tahunan yang mencatat anomali serangan siber bermotif rekayasa sosial (*phishing*) dan pencurian kredensial akun digital mengalami kenaikan tajam sebesar 45 persen sepanjang tahun berjalan.
Para penjahat siber kian lihai memanfaatkan pesan umpan palsu berbasis aplikasi perpesanan WhatsApp, surat elektronik tiruan instansi perbankan resmi, dan modus unduhan dokumen kurir palsu berekstensi .APK untuk mengelabui korban agar membocorkan kata sandi atau kode OTP rahasia.
Kerentanan Kata Sandi Konvensional dan Kode OTP SMS
BSSN mengingatkan bahwa sistem autentikasi kuno berbasis kata sandi statis dan kode One-Time Password (OTP) via SMS kini sangat rentan dibobol melalui teknik intersepsi SIM swap dan situs tiruan berbahaya (*credential harvesting*).
Juru Bicara BSSN mendorong seluruh perbankan nasional, pengelola sistem pembayaran digital, dan platform layanan publik pemerintah untuk beralih mengadopsi standar autentikasi tanpa kata sandi mutakhir berbasis FIDO2 Passkeys.
“Teknologi Passkeys menggantikan kata sandi yang mudah ditebak dengan pasangan kunci kriptografi asimetris yang tersimpan aman di dalam chip keamanan perangkat pengguna. Sistem ini sepenuhnya kebal terhadap serangan phishing karena kunci pribadi tidak pernah dikirimkan melintasi jaringan internet,” jelasnya dalam pengarahan di Kantor BSSN Ragunan, Jakarta.
Prosedur Perlindungan Cadangan Data Terisolasi (Air-Gapped Backup)
Selain ancaman pencurian kredensial individu, BSSN menyoroti maraknya serangan perangkat pemeras (*ransomware*) canggih yang menargetkan server infrastruktur kritis di sektor energi, transportasi, dan rekam medis rumah sakit.
Korporasi diwajibkan menerapkan arsitektur keamanan Zero Trust dan mencadangkan data cadangan secara terisolasi fisik (*air-gapped backup*) yang tidak terhubung dengan jaringan lokal untuk menjamin pemulihan kilat jika server utama terinfeksi.
BSSN bersama Kementerian Keuangan tengah menyusun insentif potongan pajak penelitian bagi perusahaan yang meningkatkan anggaran audit keamanan siber dan rutin menggelar uji peretasan etis (*penetration testing*).
Peningkatan kesadaran keamanan digital di tingkat manajemen puncak korporasi dinilai mendesak guna menjaga kelangsungan operasional bisnis dan melindungi data jutaan nasabah dari ancaman sindikat kejahatan siber transnasional.
Komentar Pembaca
Demi kenyamanan dan diskusi yang sehat, seluruh komentar yang dikirimkan akan melalui proses peninjauan dan moderasi oleh tim redaksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan ke publik.