KARAWANG, Media Semesta — Babak baru kemandirian industri otomotif masa depan Indonesia resmi dimulai seiring peresmian operasional komersial penuh pabrik manufaktur sel baterai kendaraan listrik PT HLI Green Power di Kawasan Industri Karawang New Industry City (KNIC), Jawa Barat.
Fasilitas manufaktur berteknologi otomasi robotika mutakhir bernilai investasi US$1,1 miliar (setara Rp17,5 triliun) yang didirikan melalui konsorsium patungan antara Hyundai Motor Group, LG Energy Solution, dan konsorsium BUMN Indonesia Battery Corporation (IBC) ini merupakan pabrik sel baterai EV pertama dan terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Kapasitas 10 Gigawatt-Hour Mampu Suplai 150 Ribu Mobil Listrik per Tahun
Pada fase operasional komersial pertama ini, pabrik HLI Green Power memiliki kapasitas produksi terpasang sebesar 10 Gigawatt-hour (GWh) sel baterai per tahun, jumlah masif yang setara untuk memasok kebutuhan lebih dari 150.000 unit mobil listrik berbasis baterai.
Sel baterai yang diproduksi mengadopsi teknologi kimia Nickel-Cobalt-Manganese-Aluminum (NCMA) generasi terbaru yang memiliki kepadatan energi tinggi (*high energy density*), stabilitas termal tahan panas tropis, dan durabilitas siklus pengisian daya hingga lebih dari 3.000 kali.
Presiden Direktur PT HLI Green Power menegaskan bahwa sel baterai buatan Karawang ini akan langsung dirakit menjadi modul kemasan baterai di pabrik perakitan Cikarang untuk disematkan pada model Hyundai All New Kona Electric dan Ioniq 5 dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) melampaui rekor 80 persen.
“Pabrik ini adalah bukti nyata hilirisasi mineral nikel Indonesia yang diolah secara beradab dan berteknologi tinggi menjadi komponen inti kendaraan masa depan. Dari tanah Karawang, kami memasok sel baterai berstandar mutu global ke berbagai lini produksi mobil listrik dunia,” ungkapnya dalam seremoni peresmian pabrik.
Ekspansi Fase Kedua Menuju Target 30 GWh Terintegrasi Hulu
Konsorsium telah meletakkan batu pertama pembangunan fase kedua senilai US$2 miliar guna melipatgandakan kapasitas produksi menjadi 30 GWh seiring terintegrasinya rantai pasok pabrik prekursor dan katoda di Batang dan smelter nikel di Maluku Utara.
Fasilitas perakitan sel baterai ini mempekerjakan lebih dari 1.200 tenaga insinyur dan teknisi muda Indonesia yang telah menjalani program pelatihan kejuruan elektrokimia intensif di Korea Selatan selama setahun penuh.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi menyatakan bahwa keberadaan pabrik baterai di dalam negeri memberikan keunggulan komparatif luar biasa bagi harga mobil listrik rakitan Indonesia untuk bersaing merebut pasar ekspor regional Australia dan Pasifik.
Indonesia kini resmi menjelma dari sekadar penonton tambang mentah menjadi raksasa industri rantai pasok energi bersih kendaraan masa depan yang disegani di panggung otomotif dunia.
Komentar Pembaca
Demi kenyamanan dan diskusi yang sehat, seluruh komentar yang dikirimkan akan melalui proses peninjauan dan moderasi oleh tim redaksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan ke publik.