MAKASSAR, Media Semesta — Kementerian Kesehatan resmi mengoperasikan empat rumah sakit vertikal rujukan terpadu berstandar internasional di empat kota strategis luar Pulau Jawa: Makassar (Sulawesi Selatan), Jayapura (Papua), Kupang (Nusa Tenggara Timur), dan Medan (Sumatera Utara).
Langkah monumental ini merupakan bagian dari peta jalan transformasi pilar kedua sistem ketahanan kesehatan nasional guna memeratakan akses pengobatan penyakit katastropik mematikan tanpa perlu pasien terbang berobat ke Jakarta apalagi ke luar negeri.
Spesialisasi Penanganan Kanker, Jantung, dan Stroke Terpadu
Setiap rumah sakit vertikal baru ini dilengkapi sarana diagnostik mutakhir seperti Linear Accelerator (Linac) untuk radioterapi kanker presisi sub-milimeter, cath lab canggih penanganan serangan jantung koroner akut 24 jam, serta unit bedah saraf mikro untuk stroke iskemik.
Menteri Kesehatan menegaskan bahwa keadilan sosial di bidang kesehatan hanya bisa tercapai bila warga di pelosok Nusa Tenggara atau Tanah Papua memiliki peluang sembuh yang setara dengan warga di kota-kota besar metropolitan.
“Selama puluhan tahun, ratusan ribu saudara kita harus antre berbulan-bulan di Jakarta untuk operasi pasang ring jantung atau radiasi tumor. Hari ini kita buktikan, layanan medis kelas dunia hadir langsung di dekat tempat tinggal mereka dengan tarif yang 100 persen ditanggung BPJS Kesehatan,” tegasnya saat meresmikan RS Vertikal OJK Makassar.
Kolaborasi Dokter Subspesialis dan Program Pengampuan Rumah Sakit
Guna menjamin ketersediaan tenaga medis ahli, Kemenkes menerapkan sistem pengampuan (sister hospital) antara empat rumah sakit vertikal ini dengan rumah sakit rujukan nasional seperti RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dan RS Jantung Harapan Kita Jakarta.
Dokter spesialis dan subspesialis berpengalaman ditugaskan secara rotasi sekaligus melatih ratusan dokter muda lokal dan perawat anestesi intensif melalui program fellowship kedokteran berkelanjutan.
Keluarga pasien dari luar kota juga disediakan fasilitas penginapan rumah singgah ramah biaya di dalam kompleks rumah sakit agar beban biaya akomodasi pendamping pasien dapat ditekan serendah mungkin.
Kehadiran empat pusat medis terpadu ini diyakini mampu menekan devisa negara yang bocor ke rumah sakit luar negeri yang selama ini ditaksir mencapai lebih dari Rp150 triliun setiap tahunnya.
Komentar Pembaca
Demi kenyamanan dan diskusi yang sehat, seluruh komentar yang dikirimkan akan melalui proses peninjauan dan moderasi oleh tim redaksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan ke publik.