SHANGHAI, Media Semesta — Prestasi membanggakan kembali dipersembahkan oleh cabang olahraga panahan Indonesia setelah duet pemanah nomor beregu campuran recurve (*recurve mixed team*) berhasil merebut medali emas pada seri kejuaraan dunia Hyundai Archery World Cup di Shanghai, Tiongkok.
Di babak final yang diselimuti hembusan angin kencang tepi Sungai Huangpu, pasangan pemanah andalan Indonesia menunjukkan kematangan mental juara dengan menaklukkan tim panahan nomor satu dunia Korea Selatan melalui babak tos-tosan penentuan (*shoot-off*) yang mendebarkan dengan skor akhir 5-4.
Akurasi Sempurna di Tengah Hembusan Angin Shanghai yang Tak Menentu
Setelah bermain imbang 4-4 pada empat set reguler, pemenang medali emas harus ditentukan melalui satu anak panah terakhir dari masing-masing pemanah dengan batas waktu membidik hanya 20 detik.
Kedua pemanah Indonesia melepaskan anak panah dengan ketenangan luar biasa, di mana kedua bidikan mereka menancap tepat di lingkaran kuning nilai 10 sempurna berjarak kurang dari satu sentimeter dari titik pusat target target 70 meter.
Hasil bidikan ganda angka 10 tersebut tidak mampu dikejar oleh pemanah lawan yang salah satu anak panahnya terdorong hembusan angin ke lingkaran nilai 9, memastikan kemenangan mutlak bagi Indonesia.
“Angin di Shanghai sangat sulit ditebak arahnya, namun pelatih selalu mengingatkan kami untuk fokus pada ritme tarikan busur dan pelepasan tali panah (release) yang rileks. Medali emas ini adalah buah kerja keras ribuan jam latihan di pelatnas,” ungkap srikandi panahan Indonesia dengan wajah berseri-seri.
Pemanasan Ideal Menuju Panggung Olimpiade
Keberhasilan mengalahkan tim adidaya panahan Korea Selatan di panggung kejuaraan dunia menjadi dorongan psikologis yang sangat masif bagi kontingen panahan Indonesia menjelang keikutsertaan di ajang multicabang internasional.
Pengurus Besar Persatuan Panahan Indonesia (PB Perpani) menggarisbawahi bahwa penerapan teknologi kamera perekam gerak lambat (*high-speed motion analysis*) dan sensor tarikan otot busur telah membantu atlet mengoreksi deviasi mikro gerakan secara ilmiah.
Dukungan fasilitas peralatan busur karbon berteknologi aeronautika mutakhir turut meningkatkan stabilitas laju anak panah di berbagai kondisi cuaca ekstrem.
PB Perpani menargetkan cabang olahraga panahan dapat mengulang kembali memori indah sejarah medali pertama Indonesia di panggung Olimpiade Seoul 1988 silam.
Komentar Pembaca
Demi kenyamanan dan diskusi yang sehat, seluruh komentar yang dikirimkan akan melalui proses peninjauan dan moderasi oleh tim redaksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan ke publik.