PEKANBARU, Media Semesta — Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meluncurkan sistem pemantauan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) generasi terbaru yang menggabungkan analisis citra satelit orbit rendah dengan armada drone otonom berkamera sensor termal infra merah.
Sistem pengawasan cerdas bertajuk Nusantara Fire Alert ini mampu mendeteksi kenaikan anomali suhu permukaan lahan gambut sedalam dua meter sebelum api sempat menyala dan membesar di atas permukaan tanah.
Deteksi Anomali Suhu Gambut Sebelum Api Membesar
Karakteristik tanah gambut tropis yang rentan terbakar dari bawah lapisan tanah kering selama musim kemarau kerap mengecoh pengamatan visual satelit optik biasa. Dengan integrasi sensor inframerah gelombang pendek (SWIR) dan drone patroli berkala, koordinat presisi titik rawan panas langsung diteruskan ke regu Manggala Agni di lapangan dalam hitungan menit.
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK menjelaskan bahwa pencegahan dini jauh lebih hemat dan efektif daripada memadamkan api yang telah melalap ratusan hektare belantara.
“Begitu sensor termal mencatat suhu gambut menembus 55 derajat Celsius, drone otomatis menyemprotkan cairan biokompatibel penurun suhu dan menyiagakan posko brigade pemadam terdekat untuk melakukan pembasahan (rewetting) sekat kanal secara intensif,” terangnya di Posko Satgas Karhutla Riau.
Partisipasi Masyarakat Peduli Api Berbasis Insentif Desa Bebas Asap
Keberhasilan teknologi ini ditopang oleh keterlibatan aktif 450 kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) di desa-desa lingkar gambut yang dibekali peralatan pemadam jinjing modern dan kendaraan segala medan (ATV).
Pemerintah memberikan penghargaan dana insentif pembangunan desa sebesar Rp200 juta bagi setiap desa rawan yang berhasil mempertahankan wilayahnya nol kebakaran dan nol kabut asap selama satu tahun penuh.
Kolaborasi pentahelix antara aparat pemerintah, korporasi perkebunan berwawasan lingkungan, akademisi, dan warga lokal ini sukses menekan luas area terbakar hingga 78 persen dibandingkan periode kekeringan El Nino sebelumnya.
KLHK menegaskan komitmen tanpa kompromi untuk menindak tegas mafia pembakar lahan dengan sanksi pidana penjara dan denda pemulihan ekologis bernilai miliaran rupiah demi menjaga langit nusantara tetap biru dan bersih dari kepulan asap polusi.
Komentar Pembaca
Demi kenyamanan dan diskusi yang sehat, seluruh komentar yang dikirimkan akan melalui proses peninjauan dan moderasi oleh tim redaksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan ke publik.